Senarai Perkataan Saya Tidak Tahu
Perkataan saya tidak tahu bukanlah aib bagi seseorang yang memang tidak tahu. Hal ini tidak menurunkan derajat seseorang sama sekali. Bahkan termasuk bagian dari ilmu itu sendiri. Di sisi yang lain bila seseorang berbicara dengan tanpa ilmu maka yang dilakukan hanyalah merusak dan bukan membawa pada kebaikan. Maka dari itu berbicara tanpa ilmu dimasukkan dalam perbuatan yang tercela.
Inilah senarai perkataan saya tidak tahu dari generasi terdahulu dalam Islam.
[1]
Suatu ketika ada seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya, "Wahai Rasulullah tempat manakah yang paling baik?"
Maka beliau menjawab, "Aku tidak tahu."
Lalu orang tersebut bertanya lagi, "Tempat manakah yang paling buruk?"
Maka Rasulullah menjawab, "Aku tidak tahu."
Orang tersebut lalu berkata, "Tanyakanlah kepada Rabbmu."
Maka datanglah Jibril ’alaihissaalam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau berkata, "Wahai Jibril tempat manakah yang paling baik?"
Jibril menjawab, "Aku tidak tahu."
Lalu Nabi bertanya lagi, "Tempat manakah yang paling buruk?"
Maka Jibril menjawab, "Aku tidak tahu."
Demikianlah, hingga akhirnya Jibril ’alaihissaalam bertanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga diberitahukan bahwa tempat yang paling baik adalah masjid-masjid, dan tempat yang paling buruk adalah pasar-pasar.
(Buletin An Nuur, https://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&id=393, akses 11 Ramadhan 1446 H).
[2]
Umar bin Khathab رضي الله عنه pernah berkata,
"Ilmu itu ada tiga: Kitab (Al-Qur'an) yang berbicara, sunnah (Nabi) yang terus berlaku, dan ucapan aku tidak tahu."
(Kitab I'lamul Muwaqqi'in karya Ibnul Qayyim).
[3]
Betapa agung ucapan sahabat Abu Darda رضي الله عنه,
"Ucapan 'saya tidak tahu' adalah setengah dari ilmu." (Mukhtashar Jami’ Bayan al-Ilmi wa Fadhih, Ibnu Abdil Bar, hal 225).
[4]
Ibnu Mas’ud رضي الله عنه marah ketika ada seseorang yang berbicara tentang tanda-tanda hari kiamat dengan tanpa ilmu. Beliau رضي الله عنه berkata,
مَنْ كَانَ عِنْدَهُ عِلْمُ فَلْيَقُلْ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ عِلْمُ فَلْيُقُلْ: اللهُ أَعْلَمُ، فَإِنَّ اللهَ قَالَ لِنَبِيِّهِ عَلَيْهِ وَسَلاَّمَ: ((قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ)).
Barangsiapa yang memiliki ilmu maka katakanlah! Dan barangsiapa yang tidak memiliki ilmu maka katakanlah: ‘Allahu a’lam! Karena sesungguhnya Allah telah mengatakan kepada nabi-Nya,
Katakanlah (hai Muhammad): "Aku tidak meminta upah sedikitpun kepadamu atas dakwahku; dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan (memaksakan diri)".
(Atsar riwayat ad-Darimi juz 1/62; Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayaanil Ilmi, juz 2/51; Baihaqi dalam al-Madkhal no. 797; al-Khathib al-Baghdadi dalam al-Faqiih wal Mutafaqih; melalui nukilan Hilyatul Alimi al-Mu’allim, hal. 59).
[5]
Pernah Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه ditanya tentang satu masalah, kemudian beliau menjawab,
"Aku tidak mempunyai ilmu tentangnya", (padahal pada saat itu beliau sebagai khalifah).
Beliau berkata setelah itu, "Duhai dinginnya hatiku" (3x).
Maka para penanya berkata kepadanya, "Wahai Amirul Mukminin, apa maksudmu?"
Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه menjawab, "Yakni dinginnya hati seseorang ketika ditanya tentang sesuatu yang dia tidak ketahui, kemudian ia menjawab: 'Wallahu a’lam'".
(Riwayat ad-Darimi 1/ 62-63; al-Khathib dalam al-Faqih wal Mutafaqih, juz 2 hal. 171; Baihaqi dalam al-Madkhal no. 794 dari jalan yang banyak. Lihat Hilyatul ‘Alimi al-Mu’alim hal. 60).
[6]
Ibnu Umar رضي الله عنه ketika beliau ditanya, “Apakah bibi mendapat warisan?”. Beliau menjawab saya tidak tahu.
Kemudian si penanya berkata, "Engkau tidak tahu dan kamipun tidak tahu, lantas?"
Maka Ibnu Umar berkata, "Pergilah kepada para Ulama di Madinah, dan tanyalah kepada mereka".
Maka ketika dia (si penanya) berpaling, dia berkata, "Sungguh mengagumkan Abu Abdirrahman (Yakni Ibnu Umar رضي الله عنه) ditanya sesuatu yang beliau tidak tahu, beliau katakan: Saya tidak tahu".
(Riwayat Ad-Darimi 1/63; Ibnu Abdi Abdi Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi; Al-Khatib dalam Al-Faqih wal Mutafaqih juz 2 hal 171-172; Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal, 769. Lihat Hilyatul ‘Alimi Al-Mu’allim ha 61).
[7]
Pernah datang seseorang kepada Imam Malik Bin Anas rahimahullah, bertanya tentang satu masalah hingga beberapa hari beliau belum menjawab dan selalu mengatakan "saya tidak tahu". Sampai kemudian orang itu datang dan berkata, "Wahai Abu ‘Abdillah, aku akan keluar kota dan aku sudah sering pulang pergi ke tempatmu (yakni meminta jawaban)".
Maka Imam Malik menundukkan kepalanya beberapa saat, kemudian mengangkat kepalanya dan berkata, "Masya Allah Hadza, aku berbicara adalah untuk mengharapkan pahala. Namun, aku betul-betul tidak mengetahui apa yang kamu tanyakan."
(Riwayat Abu Nu’aim dalam Al-Hilya, 6/323; Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil Ilmi 2/53; Baihaqi dalam Al-Madkhal no 816; Al-Khatib dalam Al-Faqih wal Mutafaqih 2/174; lihat Hilyatul ‘Alimi al Mu’allim, ha 63).
[8]
Kemudian perhatikan ucapan Imam Asy-Sya’bi rahimahullah, "Kalimat ’saya tidak tahu’ adalah setengah ilmu". (Riwayat Ad-Darimi 1/63; Al-Khatib dalam Al-Faqih Wal Mutafaqih juz 2/173; Baihaqi dalam Al-Madkhal no 810. Lihat Hilyatul ‘Ilmi Al-Mu’allim ham 65).
[9]
Imam Asy-Sya’bi juga pernah ditanya dalam suatu masalah. Beliau menjawab, "Saya tidak tahu".
Maka si penanya heran dan berkata, "Apakah kamu tidak malu mengatakan 'tidak tahu', padahal engkau adalah ahli fiqh negeri Iraq?"
Beliau menjawab, "Tidak, karena para malaikat sekalipun tidak malu mengatakan 'tidak tahu', ketika Allah bertanya,
"Sebutkan kepadaKu nama benda-benda itu jika kamu memang benar!"(Al-Baqoroh:31).
Maka para malaikat menjawab, "Mereka menjawab, Mahasuci Engkau, tidak ada ilmu bagi kami selain dari apa yang telah engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Al-Baqoroh:32).
(Lihat ucapan Imam Asy-Sya’bi dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhili (2/51).
[10]
Al-Mawardi rahimahullah mengatakan, "Jika seseorang tidak dapat menguasai sesuatu ilmu maka bukan merupakan cela jika dia bodoh dalam sebagiannya. Dan jika bodoh dalam sebagian perkara bukan suatu aib maka bukan merupakan keburukan jika seseorang mengatakan 'Aku tidak tahu' dalam hal yang memang tidak ia ketahui." (Adabu ad-Dunya wa ad-Diin hal 123).
[11]
Seorang ulama' pernah memberi nasehat,
“Belajarlah engkau untuk mengucapkan ‘saya tidak tahu’. Dan janganlah belajar mengatakan ’saya tahu’ (pada apa yang kamu tidak tahu -red), karena sesungguhnya jika engkau mengucapkan ’saya tidak tahu’ mereka akan mengajarimu sampai engkau tahu”. Tetapi jika engkau mengatakan ‘tahu’, mereka akan menghujanimu dengan pertanyaan hingga kamu tidak tahu”.(Jami’ Bayanil ‘Ilmi 2/55 melalui nukilan Hilyatul ‘Alim Al-Mu’allim, Salim Bin Ied Al-Hilaly, hal 66).
Maka hendaklah seseorang itu sadar dengan kadar dirinya dengan tidak berkata tentang sesuatu yang tidak ada ilmunya. Ucapan saya tidak tahu tentu akan memperbaiki banyak keadaan.
==============
Dari berbagai sumber
Disusun oleh Abu Maryam
11 Ramadhan 1446 H/11 Maret 2025
di Bogor
Selanjutnya...